Dalam
kenyataannya, terlalu mahal untuk mendapatkan atau membuat bensin yang
hanya terdiri dari heptana dan iso-oktan. Biasanya hasil penyulingan
dari minyak bumi yang digunakan untuk membuat bensin adalah : pentana,
hexana, heptana, oktana, dekana, dan dodekana. Keenam jenis ini
merupakan senyawa hidrokarbon yang dicampurkan dengan komposisi tertentu
untuk menghasilkan bensin dengan nilai oktan tertentu (88, 92 dan 95).
Sangat
sering terjadi, hasil penyulingan minyak bumi menghasilkan jumlah
masing-masing dari keenam senyawa hidrokarbon diatas tidak mencukupi
untuk membuat komposisi bensin dengan Nilai Oktan sesuai dengan yang
diharapkan. Karena itu perusahaan penyulingan minyak tersebut harus
melakukan konversi pada bensin tersebut agar didapat bensin dengan Nilai
Oktan yang diinginkan. Konversi bisa dilakukan dengan cara memecah
rantai karbon, menambah atau menggabungkan rantai karbon, atau bisa juga
dengan mengubah isomer dari larutan-larutan bensin tersebut. Konversi
dilakukan dengan menggunakan satu atau beberapa cara diatas melalui
pertimbangan efisiensi biaya.
BENSIN BEROKTAN TINGGI DI INDONESIA
Hampir
semua kendaraan yang berbasis bensin, kurang lebih 10 tahun terakhir
ini, dirancang untuk menggunakan bensin dengan Nilai Oktan minimal
92. Beberapa keuntungan menggunakan bensin yang beroktan tinggi (Nilai
Oktan 92 dan 95) adalah :
Mengoptimalkan proses pembakaran pada mesin dan anti-knocking
Bensin
yang beroktan lebih tinggi memiliki titik bakar bensin pada suhu atau
tekanan yang lebih tinggi, artinya bensin akan lebih lambat terbakar
tetapi memiliki kekuatan ledak yang lebih besar. Kekuatan ledak bensin
ini akan diubah menjadi energi gerak oleh piston untuk memutarkan roda.Karena kekuatan ledaknya lebih besar, maka energi gerak yang tercipta pun lebih besar sehingga tenaga mesin pun meningkat, serta terjadi optimalisasi penggunaan energi oleh mesin. Adanya optimalisasi energi berarti adanya penghematan bensin yang digunakan oleh mesin. Di samping itu, ledakan awal di piston (bensin terbakar sebelum piston sampai di posisi terendah, disebut juga knocking) tidak akan terjadi sehingga mesin lebih terawat.
Mengurangi Emisi Gas CO (Karbon Monoksida)
Seperti
kita ketahui bersama, gas CO dan jelaga terbentuk apabila proses
pembakaran berjalan tidak sempurna. Ketika proses pembakaran sempurna,
maka yang terbentuk adalah CO2. CO
jauh lebih mudah diserap oleh tubuh melalui pernafasan dan berakibat
terjadinya sesak nafas serta menurunnya kadar O2 pada otak. Hal ini
mengakibatkan pusing dan mual, pingsan bahkan kematian apabila
konsentrasi CO di tubuh sangat tinggi. Dalam
jangka waktu lama, penimbunan CO sedikit demi sedikit pada tubuh juga
mengakibatkan rentannya paru-paru sehingga lebih mudah untuk
terjangkiti penyakit. Pada akhirnya berakibat pada menurunnya kualitas
kesehatan tubuh manusia secara keseluruhan.
Merawat Mesin Lebih Baik
Di samping sebagai anti-knocking, pembakaran yang sempurna juga turut mengurangi residu (kotoran/jelaga) hasil pembakaran. Biasanya
residu-residu ini menempel pada mesin, mengoksidasi logam mesin
sehingga menjadi kerak (karat) pada mesin. Dengan berkurangnya residu
hasil pembakaran, maka penyebab kerak pada mesin pun berkurang. Sehingga
mesin menjadi lebih awet. (Sebagai
ilustrasi bisa dibandingkan antara jelaga yang terbentuk pada
ketel/panci ketika memasak dengan kompor gas dan kompor minyak tanah).
Dengan
besarnya manfaat yang bisa didapat dengan menggunakan bensin beroktan
tinggi, sudah seyognyanya kita mulai beralih dari bensin beroktan 88,
menjadi pengguna bensin beroktan 92 atau 95. Sayangnya, disparitas harga
antara bensin beroktan 88 dan bensin beroktan tinggi menjadikan hal
ini susah dilakukan oleh kebanyakan masyarakat di Indonesia.
Menghadirkan Fors Booster , yang akan mengubah Bensin menjadi Pertamax.
Harga 65 Ribu ( Ukuran 100 ml )
Harga 5 Ribu ( Ukuran 4 ml )